Laman

Senin, 12 Desember 2011

MENGEMBALIKAN KEPEMIMPINAN ULAMA DI CARUBAN

Menurut sebuah literatur nama asli Cirebon adalah Caruban yang berarti campuran. Nama yang mencerminkan adanya proses asimilasi, sifat inklusif, dan simbol pluralisme. Caruban adalah nama pemukiman disekitar lemah wungkuk yang dihuni oleh sekian banyak etnis, bahasa dan agama seperti pedagang/saudagar dari Arab, Cina, India, Eropa dan tentu saja kaum pribumi asli Cirebon sendiri. Dari sini kita faham bahwa Cirebon telah menjadi daerah pelabuhan dan perdagangan besar sejak ratusan tahun silam. Kebesaran Cirebon tidak hanya ditentukan oleh keberadaan pelabuhan dan pusat perdagangan. Cirebon menjadi besar dan terkenal kemancanegara tidak bisa dilepaskan dari kehadiran tokoh pemimpin yang sangat mumpuni yaiti Syekh Syarif Hidayatullah atau sunan Gunung Djati ( Wafat tahun 1568 M) . Beliaulah yang meproklamirkan Cirebon sebagai kerajaan islam pertama di Jawa Barat (1479 M) dan beliau pula yang mengislamkan kerajaan Banten (1253 M) dan kerajaan Padjajaran Bogor (1569 M) . Syekh Syarif Hidayatullah disebut sebagai pemimpin yang mumpuni karena pada pribadi beliau berkumpul tiga kekuatan utama yaitu kecakapan memimpin (Leader) , Pengajar dan penyebar agama islam ( ulama) dan kekayaan harta (saudagar) Salah satu wasiat yang sangat monumental dari syehk Syarif Hidayatullah adalah “Igsun titip tajug lan fakir miskin” . Keabadian sebuah wasiat terkait erat dengan nilai-nilai filosopi yang terkandung didalamnya, antara lain ; Pertama, orang yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap tajug dan kaum fakir miskin pasti datang dari kalangan penganut/pemeluk agama yang taat, memiliki komitmen keagamaan yang kuat dan mengetahui secara mendalam ajaran-ajaran agama islam (ulama). Kedua, Orang yang mampu membaca adanya korelasi signifikan antara tajug dan fakir miskin adalah sosok cerdas yang piawai menghubungkan ketaatan beragama (keshalehan individu) dengan kesejahteraan masyarakat ( keshalehan sosial). Sedangkan yang ketiga, Pemimpin yang menitipkan tajug dan fakir miskin mengindikasikan bahwa pemimpin tersebut memiliki pandangan jauh kedepan (Visioner). Yakni tidak hanya sebatas ingin mensejahterakan rakyatnya didunia tapi merindukan pula agar masyarakat Cirebon bahagia diakhirat karena mendapat ridlo Allah SWT. Ringkasnya , Syekh Syarif Hidayatullah sangat concern menciptakan wilayah Cirebon sebagai Baldatun toyibatun warobun ghofur , negeri idaman yang digambarkan oleh Allah dalam QS, 34: 15. Islam, agama mayoritas bangsa indonesia memiliki ajaran yang sangat komprehensif tentang kepemimpinan (leadership). Literaur-literatur islam (Qur’an, hadist dan buku-buku karangan ulama/ilmuan kaliber dunia) sangat kaya dengan kosa kata tentang kepemimpinan seperti kholifah, imam, amir, sayid, sultan dan lain-lain. Disinggung pula mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin, tugas-tugas seorang pemimpin dan tata cara memilih pemimpin. Islam, selain telah berhasil melahirkan tokoh-tokoh pemimpin handal sekelas Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib, Abu Dzar Alghifari, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid dst pun telah berhasil melahirkan ilmuan-ilmuan terkemuka bidang politik dan kepemimpinan. Mereka adalah Al-Mawardi (w.1058 M), Ibnu Hazm (w. 1064 M ), Al-Ghozali (w. 1111 M. ) dan Ibnu Khaldun (w. 1406 M) . Ilmuan-ilmuan muslim bidang politik dan kepemimpinan melalui kitab-kitab karangan mereka yang masih beredar hingga hari ini yaitu Al-Ahkam Assulthoniyah, Ihya-Ulummuddin dan Al-Muqadimah menyepakati bahwa syarat-syarat pokok seorang pemimpin adalah Basthotan Fil-Ilmi Wal- Jismi memiliki keunggulan dalam keilmuan dan kesehatan. Keunggulan dalam bidang ilmu karena pemimpin dituntut untuk terus berfikir kreatif- inovatif, melahirkan solusi-solusi cerdas (Mujtahid), membuat perubahan dan mampu berfikir Out of the Box. Sedangkan keunggulan fisik sangat dibutruhkan karena seorang pemimpin harus bekerja siang dan malam, pada saat hujan maupun panas dan harus selalu tampil fit ditengah-tengah masyarakat. Penekanan ini lebih difokuskan pada tujuan kepemimpinan (leadership) yaitu untuk : a). membangun keadsaan sehingga masa depan selalu lebih baik dari masa lalu (QS, 10 : 13-14). b). Menciptakan keteraturan hidup,memberi rasa aman dan merembeskan optimisme ( QS, 2 :30). c) menegakkan hukum (QS, 38 : 26) dan d). menciptakan kemakmuran dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat QS, 11: 61). Untuk membangun kembali Cirebon seperti saat dipimpin Syekh Syarif Hidayatullah yaitu Cirebon yang disegani dan diperhitungkan dalam percaturan politik nasional dan global, tentu saja membutuhkan waktu dan upaya. Salah satunya adalah membina sikap dan kesadaran kolektif masyarakat bahwa pemilihan kepala daerah (PILKADA) tahun 2008 bukan hanya merupakan urusan individu-individu tertentu yang tercerminkan dalam sikap “siapa saja boleh mencalonkan” tapi mampu memandang PILKADA sebagai urusan bersama dalam bingkai kemaslahatan umum. Sikap dan kesadaran kolektif ini pada gilirannya harus terejawantahkan dalam bentuk tekad yang kuat, terus membara dan tidak bisa dipadamkan oleh uang (Money Politic) berapaun jumlahnya. Sikap dan kesadaran kolektif harus pula bermuara pada kesamaan faham bahwa kepemimpinan bukan untuk menguasai tapi untuk melayani masyarakat seperti diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika bersabda “Sayyidul qaumi Khodimuhum” ( HR. Imam Bukhori dari Ibnu Abbas Ra). Saat ini reformasi bidang politik sedang mengarah pada pemberian kedaulatan kepada rakyat secara murni dan konsekwen sesuai bunyi UUD 1945 yang ditandai dengan adnaya perubahan–perubahan pada proses pemilihan kepala daerah/negara yang semula berada ditangan segelintir orang (Anggota Dewan) menjadi pemilihan langsung oleh rakyat, serta adanya diskusi-diskusi yang sangat intens dalam rangka memberi peluang bagi kemungkinan munculnya calon-calon independent. Suasana dan iklim politik yang relatif bagus ini harus disiasati untuk meningkatkan kedewasaan sikap politik seluruh warga masyarakat Kabupaten/ Kota Cirebon sehingga mereka mampu memilih pemimpinnya secara sadar benar dan rasional yaitu bahwa Cirebon sangat membutuhkan figur pemimpin yang memiliki kualifikasi ULAMA serta komitmen pada kesejahteraan masyarakat.

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Abu Bakar Assidik dan Umar Bin Khotob (Radiyallahu ‘anhuma) hanyalah sahabat Rasullah saw dan orang biasa. Keduanya bukan ahli fikir (filosof), bukan ilmuan, bukan negarawan dan tidak memiliki keterkaitan keturunan (silsilah) dengan pemimpin-pemimpin besar tingkat dunia. Namun keduanya sering menyita perhatian dan menjadi rujukan kepemimpinan kontemporer padahal masa kepemimpinan keduanya relatif singkat. Apakah rahasia yang dimiliki keduanya ?. Ucapan Abu Bakar RA saar dilantik menjadi kholifah sering dinukil oleh berbagai kalangan dari tingkat paling bawah yaitu kepemimpinan tingkat Desa sampai kepemimpinan tingkat Nasional, baik di Indonesia maupun di negara-negara luar. Ucapannya itu berbunyi ; “Saya telah mengemban tugas ke khalifahan padahal saya sendiri sangat tidak mau…..Perlu kalian ingat ! jika kalian membebani (memberi tugas) kepada saya seperti yang telah di emban oleh Nabi saw, saya tidak mungkin mampu mengembannya karena Nabi merupakan hamba Allah yang dimulyakan dan di jaga (ma’sum). Ingatlah ! saya manusia biasa dan saya bukan yang terbaik diantara kalian, maka jagalah saya. Selama kalian melihat saya masih istiqomah/lurus, ikuti dan patuhi saya. Dan jika kalian melihat saya menyimpang maka luruskanlah…..”. Pidato spontan dan tanpa teks ini memancarkan beberapa dimensi kepemimpinan, sebagian dari padanya insya Allah akan dibahas dalam uraian selanjutnya. Adapun Umar Bin Khotob RA mencuat dalam jajaran kepemimpinan tingkat dunia karena ketegasan sikap, kecerdasan spritual, seringnya menyamar menjadi rakyat biasa untuk mendengar langsung suara/jeritan asli masyarakat, serta tingginya komitmen beliau untuk mensejahtrakan rakyat. Arahan Al-Qur’an Al-Quran adalah kitab petunjuk kehidupan manusia. Di dalamnya terkandung arahan-arahan untuk memperoleh kesuksesan, kebahagian dan kebaikan hidup di alam dunia dan akherat. Tidak terkecuali masalah kepemimpinan (leadership/khilafah). Kitab suci Al-Qur’an memuat sangat banyak ayat-ayat tentang kepemimpinan. Ada kisah Thalut dan Jalut (Qs. Al-Baqoroh : 246-252) ada kisah para Nabi Ulul Azmi, kisah kegagalan Firaun dan ada pula ayat-ayat yang berisi petunjuk mengenai siapa yang layak menjadi pemimpin, tata cara memilih pemimpin serta tugas-tugas seorang pemimpin yaitu harus merubah keadaan menjadi lebih baik (Qs. Yunus : 13-14) memberi rasa aman (Qs. Al-Baqoroh : 30) menegakkan hukum (Qs. Shood : 26), menciptakan kema’muran dan kesejahteraan (Qs. Huud : 61) dan lain-lain. Tulisan ini hanya ingin mengajak untuk mendalami satu ayat saja yaitu yang tercantum dalam surat Annisa (4) ayat ke 59 yang berbunyi : Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Ayat ini mengisyaratkan beberapa hal : pertama, struktur kepemimpinan di muka bumi (presiden, gubernur, bupati/wali kota) berada dibawah kepemimpinan Allah dan Rasul_Nya. Ini berarti seorang pemimpin (formal/informal) merupakan pelaksana harian/pelaksana tugas/pengganti/khalifah dari kepemimpinan di atasnya yaitu Allah dan Rasul. Pemimpin yang terpilih harus merasa sedang dan akan terus mengemban amanah Allah/Rasul dan harus mampu menjabarkan kehendak Allah/Rasul. Segala sesuatu yang menurut Allah /Rasul harus ada, mesti di adakan. Dan segala sesuatu yang tidak boleh ada (diharamkan) oleh Allah dan Rasul mesti dibuang jauh. Kedua, pemimpin yang terpilih wajib di ikuti dan dipatuhi oleh seluruh rakyat selama pemimpin tersebut masih taat kepada atasannya yaitu Allah dan Rasul serta menjalankan syariat_Nya. Ketika seorang pemimpin telah jauh menyimpang atau sering terjadi kontroversi dan beda persepsi dengan rakyat pemilih maka hendaklah dikembalikan kepada ketentuan Allah (Al-Qur’an) dan ketentuan Rasul (Hadist). Yakni bila maslahatnya harus diganti, silahkan diganti oleh orang yang lebih baik. Kemaslahatan umum harus di utamakan dari pada kepentingan pribadi. Ketiga, kalimat MINKUM (dari kamu/diantara kamu) mengisyaratkan bahwa mengangkat pemimpin sebaiknya/idealnya adalah dari kalangan sendiri yaitu internal umat atau internal partai sehingga yang terpilih benar-benar seagama, satu idiologi, sama visi dan misi serta diyakini mampu membimbing kehidupan masyarakat. Pemimpin harus tumbuh dari bawah, muncul keatas lebih karena kekuatan/kharisma pribadinya dan bukan karena kekuatan uang, kekuatan orang lain (pemimpin titipan) dan bukan pula karena tingginya jabatan. Pemimpin yang tumbuh dari bawah insya Allah akan lebih memperhatikan masyarakat bawah. Mengkaitkan kalimat MINKUM dengan atmosfir politik saat ini dimana pemilihan pemimpin langsung oleh rakyat maka tidaklah berlebihan kalau tulisan ini mengharap munculnya solusi cerdas daripada pemimpin organisasi massa (ormas islam) serta tumbuhnya kesadaran baru pada tataran massa (jama’ah ormas) untuk memberdayakan mesjid menjadi institusi penggerak terbinanya koalisi ummat. Yaitu koalisi yang menggabungkan kepemimpinan ormas islam (NU, Muhammadiyah, PUI, PERSIS dll). Koalisi parpol, sejatinya hanya ada pada benak individu/kelompok yang berfikiran pragmatis dan lebih berorientasi pada kekuasaan. Arahan Hadist Tidak berbeda jauh dengan Al-Qur’an, hadist-hadist Rasulullah pun banyak yang bersinggungan dengan masalah kepemimpinan. Satu diantaranya adalah berbunyi : IDZA KANU TSALASATAN FALYUAMMIHIM AHADUHUM……..”apabila kamu bepergian bertiga maka angkatlah/jadikanlah salah seorang sebagai pemimpin”.( HR Imam Muslim, Imam Ahmad dan Imam Nasa’I dari sahabat Abi Said). Hadist di atas menegaskan sikap dan pandangan Rasul yang mewajibkan mengangkat seorang pemimpin walaupun dalam sebuah jamaah/komunitas kecil dan bersifat sementara apalagi dalam suatu komunitas yang lebih besar. Kemudian, kepemimpinan menjadi sebuah keniscayaan yaitu untuk menjamin kesuksesan bersama. Kepemimpinan harus dipandang sebagai masalah bersama dalam bingkai/koridor kemaslahatan umum. Pemimpin dan yang dipimpin harus berangkat dari titik start yang sama dan akan menuju pada satu titik finish yang sama pula. Dengan ungkapan lain, pemimpin dan yang dipimpin harus senantiasa menjaga irama kebersamaan. Shalat Berjamaah Shalat berjamaah adalah ibadah yang memformulasikan dan memanifestasikan irama kebersamaan antara pemimpin dan yang dipimpin. Didalamnya terdapat aturan untuk imam (pemimpin) dan makmum (yang dipimpin) seperti: imam harus memperhatikan kondisi makmum, sedangkan makmum harus mengikuti dan tidak boleh mendahului imam. Shalat berjamaah mengandung pelajaran bahwa pemimpin harus memberi ruang kepada yang dipimpin untuk mengoreksi dan memperbaiki. Dalam kaitan ini maka pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menyikapi koreksi/kritik dari rakyat sebagai energi tambahan atau penyeimbang untuk meraih kebaikan dan kesempurnaan kepemimpinannya. Shalat berjamaah menghadirkan nuansa kebersamaan dan mempertegas bahwa persoalan kepemimpinan merupakan masalah bersama dan untuk kebaikan bersama pula. Keberadaan pemimpin semata-mata dan hanya untuk lebih menyempurnakan kehidupan. Maka sungguh keliru kalau ada pemimpin yang merasa diri lebih tinggi dari yang dipimpinnya dan menuntut hak-hak istimewa. Akhir kalam dari tulisan ini ingin mengajak semua pihak memiliki pandangan yang sama tentang pentingnya sikap dan gerakan kolektif untuk mencermati kontrak politik para pemimpin, fluktuasi harta kekayaan mereka dan proses pengambilan keputusan apakah melalui musyawarah atau pemaksaan kehendak. Nabi saw mengingatkan : IDZA KANAT UMARO-UKUM KHIYAROKUM WAAGNIYA-UKUM SAMHA-AKUM WA UMUROKUM SYUROO BAINAKUM FADZOHRUL ARDI KHOERUN LAKUM MIN BATNIHA WAIDZA KANAT UMARO-UKUM ASYROROKUM WA AGNIYA-UKUM BUKHOLA-AKUM WA UMUROKUM ILA NISA IKUM FABATNUL ARDI KHOERUN LAKUM MIN DZOHRIHA (HR. Thurmudzi dari Abi Huraeroh).

MUALILAH DARI DIRIMU

1). Hai orang yang berkemul (berselimut), 2). Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3). Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5). Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6). Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7). Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .(QS.Al-Mudatsir-1-7) Inilah wahyu yang keempat, Surah Al-Mudatsir 1-7. Di dalamnya terdapat penekannan pada personal strength pribadi Nabi Muhammad SAW. meliputi, antara lain (1) Pentingnya Mission Statement, (2) dimulainya Character Building, dan (3) tentang Self Controlling. Untuk lebih jelasnya mari kita dalami ayat demi ayat. 1). Hai orang yang berkemul (berselimut Al-Mudatsir memiliki arti yang sama dengan Al-Muzzamil. Yakni orang yang menutupi tubuhnya dengan kain. Sebuah ungkapan kiasan (metamorfoses) untuk menggambarkan seseorang yang dalam suasana fisik/suasana hati yang belum normal. Yang di panggil oleh ayat ini tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. 2). Bangunlah, lalu berilah peringatan Ini adalah perintah kedua kali kepada sosok yang sama untuk bangun/berjaga ditengah malam. Kalau dalam rentang waktu yang relatif pendek sebuah perintah sudah di ulang dua kali, itu berarti mengandung isi pesan yang ekstra penting atau top secret. Bangun malam bagi seorang Nabi atau orang yang sedang di persiapkan dapat melakukan tugas besar, atau mereka yang sedang dikarantina di PELATNAS mengandung arti yang sangat strategis dan bernilai tinggi. Tugas berikutnya yang di embankan kepada Nabi Muhammad SAW. adalah memberi peringatan (Nadzir). Yaitu menyampaikan efek negatif dari suatu pekerjaan yang telah mentradisi, padahal pekerjaan tersebut tergolong sasaran pemberantasan. Akronim kata Nadzir adalah Basyir, yaitu upaya menyampaikan dampak positif dari pekerjaan-pekerjaan (tradisi) yang benar dan sesuai dengan risalah kenabian. Upaya pencitraan positif dan pencitraan negatif terhadap prilaku masyarakat akan lancar dan sukses bila didahului langkah mission statement dan pembangunan visi. Ditempat lain Allah berfirman: 45). “ Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, 46). Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. 47). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. 48). Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pelindung”. (QS. Al-Ahzab-45-48) 3). Dan Tuhanmu agungkanlah Nabi Muhammad dan ummatnya di perintahkan untuk membesarkan tuhan Allah SWT . Artinya: Allah semestinya mendapat tempat utama didalam kalbu setiap insan, kedudukan Allah harus paling tinggi dan diatas segalanya , perintah Allah hendaknya dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Membesarkan tuhan, implisit di dalamnya; Allah adalah pusat pengahdapan/perhatian, Allah adalah sumber inspirasi, Allah adalah pusat orbit, dan Allah adalah sumber kekuatan. Seorang ulama berpendapat bahwa kalimat WAROBBAKA FAKABBIR cukup menjadi indikasi bahwa Islam menganut paham teosentrik dalam segala aspek kehidupan. Empat ayat selanjutnya , yaitu ayat 4,5,6 dan 7 menekankan pada pentingnya character building dan self controlling. Pembangunan karakter yang Allah lakukan pada pribadi Nabi Muhammad SAW. antara lain; Nabi Muhammad SAW. mesti mencintai kebersihan dalam segala hal (pakaian, makanan/rizki, keinginan dan ucapan), Nabi Muhammad bersifat selektif, mengutamakan proses dan selalu mampu menjaga suasana hati. Jika character building berjalan secara semestinya, maka pelan tapi pasti pada gilirannya akan membekaskan pada pribadi Nabi Muhammad SAW. sebuah sikap dan sifat untuk terus menerus melakukan self controlling terhadap seluruh aktivitas yang telah dilakoni. Self controlling yang paling utama adalah dari belenggu ego duniawi atau nafsu batiniah yang tidak seimbang. Sementara, ego akan cenderung mengambil jalan pintas (mengabaikan proses) untuk mencapai suatu keberhasilan, dan hanya akan menciptakan suatu landasan yang rapuh dan berbahaya yang justru akan menghantam balik dirinya sendiri. Melalui Al-Mudatsir Allah SWT. ingin mengarahkan nabi Muhammad SAW. menjadi seorangg pemimpin yang benar-benar muncul karena pengaruh pribadinya, pemimpin yang dicintai karena integritas pribadinya dan pemimpin yang memahami ke mana diri dan ummatnya harus melangkah. Pemimpin yang mampu mengendalikan diri, bertindak rasional, sesuai kehendak suara hati yang fitrah adil dan bijaksana. Allah SWT. berfirman: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Qs.Az-Zummar -10)

ENERGI ISTIGHFAR

Rasulullah SAW. bersabda : Siapa yang memperbanyak membaca istighfar maka Allah SWT. akan menjadikan baginya segala kebingungannya sebuah solusi, segala kesempitannya ada jalan keluar dan Allah memberi Rizki kepadanya dari jalur-jalur yang tak terduga (HR.Imam AL-Qurtubi dari Jabir RA). Hadist ini memberi motivasi agar umat Islam gemar membaca istighfar (sering memohon ampun) kepada Allah SWT. seraya mengemukakan beberapa faidah Istighfar antara lain; tidak akan bingung / sedih berkepanjangan karena akan segera memperoleh solusi, tidak akan dihimpit dengan kesulitan-kesulitan karena akan menemukan alternatif-alternatif pemecahan, dan terbukanya pintu-pintu rizki yang relatif banyak yang membawa ketenangan dan keberkahan. Benrakah demikian ? Memohon ampun akan tulus diucapkan oleh orang yang rajin melakukan evaluasi; evaluasi diri, evaluasi hasil kerja dan evaluasi situasi. Setelah merasakan hasilnya tidak memuaskan dan masih jauh dari sempurna maka secara sepontan dia akan memohon ampun. Istighfar mendorong setiap pribadi untuk melakukan evaluasi rutin (harian, mingguan, bulanan dan tahunan). Memohon ampun hanya mungkin terucap dari pribadi yang rendah hati. Ia menyadari bahwa sumber masalah adalah dirinya sendidri dan menghindarkan untuk menuduh/ mengkambinghitamkan orang lain. Orang yang rendah hati cenderung bisa bekerjasama atau bersinergi dengan banyak orang (non sektarian). Sering membaca istighfar atau memohon ampun kepada Allah SWT. melalui lisan dan hati akan mampu mendorong jiwa seseorang untuk selalu dalam keadaan suci dan bersih serta menjauhkan prasangka negatif kepada siapapun. Dan orang yang memiliki hati yang bersih akan melahirkan fikiran-fikiran jernih dan positif untuk mendobrak segala kebekuan atau belenggu kehidupan. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda“ Sesungguhnya bagi setiap hati manusia pasti memiliki karat seperti halnya besi, dan alat pembersihnya adalah Istighfar”( Al hadist). Setelah meliliki hati yang bersih maka istiqfar pada gilirannya akan membangun fikiran bawah sadar seseorang untuk kemudian memunculkan sebuah kekuatan (magic power) yang dapat mengusir/menghilangkan segala pengaruh jahat, fikiran kotor dan paradigma buruk. Orang-orang yang menyampaikan permohonan ampun secara berula-ulang ; pagi, siang dan malam, pada saat berdiri, duduk atau berbaring akan menumbuhkan satu kebiasaan positif, yaitu jujur pada diri sendiri, mudah meminta maaf dan mudah pula memaafkan orang lain.

Pribadi Unggul : ABDULLAH BIN HUDZAFAH ASSAHMY

Sunguh…! Mati Seribu Kali Lebih Saya Sukai Daripada……. Berkat Islam, seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Hudzafah memiliki kesempatan berteman penguasa dua negara adikuasa pada jaman itu: Kisra Raja Persia dan Kaisar Romawi. Kisah Abh dengan masing-masing kedua pembesar tersebut akan senantiasa di kenang sepanjang jaman dan akan terus direaktualisasi oleh para ahli sejarah. Pada tahun ke 6 H Nabi Muhammad memiliki program mengisahkan seluruh kawasan dengan cara mengirim surat dakwah kepada para Raja/pembesar negeri-negeri non Arab. Untuk maksud ini Nabi memanggil enam pemuda pilihan. Salah satunya bernama Abdullah bin Hudzafah Assahamy (selanjutnya hanya akan ditulis AbH). Nabi SAW menatap wajah para pemuda pilihan dengan tatapan tajam, dan dengan suara berat beliau SAW berkata: ” Saya memiliki keinginan besar dapat mengislamkan seluruh penguasa negara non Arab. Dan saya akan mengutus saudara-saudara membawa surat dakwah kepada mereka. Tidak boleh ada seorangpun yang menolak perintah ini seperti bani Israil menolak permintaan Isa Alaihissalam”. Nabi SAW menepuk pundak enam pemuda pilihan dan menanyai kesanggupan satu persatu. Semuanya menjawab sama ”Kami siap mensukseskan program anda. Utuslah kami kemana engkau mau” Abdulah menerima surat dakwah untuk Kisra Raja Persia . Dia segera pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu; kata, perbekalan dan pakaian . Kepada sang istri tercinta, Abdullah berkata: Aku titipkan engkau dan anak-anak kepada Allah saja. Aku akan berangkat memenuhi tugas rasul dengan ditemani oleh Allah saja. Semoga semuanya baik-baik saja. Sang istri mengantar Abdullah bin Hudazaifah dengan tatapan penuh kebanggan: Butiran-butiran air mata yang membasahi pipi adalah tangis kebahagiaan. Maka kepada anak-anaknya ia berkata: Ayahmu mendapat kehormatan dari Nabi SAW untuk menyampaikan surat dakwah kepada para raja non Arab. Nanti , kalau kamu sudah besar, kamu harus seberani ayahmu”. Setelah mendaki gunung-gunung dan perbukitan, melintasi lembah dan ngarai, mengarungi lautan pasir non luas, Abdullah bin Hudzafah berhasil sampai ke Istananya Persia. Setelah meminta izin kepada pasukan pengamanan, dia masuk istana dengan pakaian yang sudah sangat lusuh, langkahnya penuh percaya, kepala tegak penuh kebanggan berislam, disertai cahaya terang keimanan . Bersama dengan itu, Kisra Raja Persia memanggil ajudan dan para mentri. AbH berdiri tegak dihadapan Kisra untuk menyerahkan Surat Rosulullah. Tapi kisra meminta salah seorang mentri untuk mengambil surat dari tangan utusan Nabi. AbH menolak untuk menyerahkan dengan alasan Nabi memerintahkan harus langsung ke tangan Kisra, saya tidak berani menyalahi perintah Nabi; Ujar Abdullah penuh percaya diri. Dengan sangat jengkel Kisra Persia berkata: ”biarkan dia mendekat kepadaku” Abdullah melangkah dua langkah dan menyerahkan surat kepada Kisra Persia. Surat tersebut oleh Kisra di serahkan kepada staf yang mengerti bahasa Arab dan menyuruhnya untuk membaca. BISMILLAHIRROHMANIRROHIM dari Muhammad Rosulullah Kepada Kisra Agung Persia. Kisra Persia serta merta berteriak, cukup!. Dadanya membara, wajah memerah dan bulu kuduknya pada berdiri. Kisra merampas surat dari stafnya merobeknya, kemudian mengusir Abdullah untuk segera meninggalkan istana. Abdullah keluar dari istana seraya menunggu perkembangan lebih lanjut apa yang akan Allah perbuat untuk dirinya. Apakah akan dibunuh atau dibebaskan. Dalam penuh ketidak pastian itu Abdullah bergumam: ” Demi Allah, saya tidak akanpernah menyesali apapun yang terjadi pada diri saya setelah saya berhasil menunaikan tugas Rosulullah SAW. Setelah dalam waktu relatif lama tidak ada terjadi sesuatu maka Abdullah segera menghampiri untanya kemudian bergerak pergi meninggalkan Istana Kisra. Setibanya dimadinah, Abdullah segera menghadap Nabi untuk melaporkan pelaksanaan tugas sejak berangkat sampai bertemu Kisra Agung Persia, termasuk respon sangat menyakitkan karena surat Rosulullah di robek-robek penuh emosional. Rosulullah SAW menyimak secara seksama seluruh laporan yang disampaikan Abdullah dan mengomentari dengan kalimat sangat pendek : MAZZAQOLLAHU MULKAHU ( Allah akan merobek-robek kerajaan Kisra Agung). Pada tahun 19H/ .....Khalifah Umar bin Khatab mengirim beberapa peleton tentara Islam untuk untuk menumbangkan dominasi Kerajaan Romawi . Didalamnya terdapat nama Abdullah bin Khudzaifah, salah seorang tentara Islam yang dikenal tangguh, pemberani cerdik dan teguh. Beberapa tentara Islam menjadi tawanan tentara Romawi. Mereka di borgol dan dihadapkan kepada kaisar. Abdullah mendapat giliran pertama berhadapan dengan kaisar disingkat (KR) KR: saya ingin mengajukan penawaran. Abdullah: Penawaran apa? KR : Saya meminta anda menjadi bagian dari tentara kami (Romawi) untuk memerangi tentara Islam, Jika bersedia, anda tidak menjadi tawanan lagi dan langsung menjadi komandan perang. Abdullah : Sayang sekali .., mati seribu kali masih lebih saya sukai daripada menolong tentara kafir. KR : Saya mengagumi anda sebagai tentara heroik. Saya bersedia berbagi tugas dan kewenangan. Anda bisa menjadi wakil Raja disini (Romawi). Abdullah : Demi Allah! Jika tuan memberikan kepadaku semua yang tuan miliki, plus kekuasaan pada raja yang lain supaya aku meninggalkan Agama Muhammad barang sekejap, tidak pernah saya lakukan! KR : Kalau begitu, saya akan bunuh kamu! Abdullah : Lakukan sekehendak tuan. KR : Wahai para tentara Romawi ! gantung Abdullah! Lempari dia dari jarak dekat, dari depan dan dari belakang! Dia menolak tawaran kami. Beberapa tentara Romawi melaksanakan perintah Kaisar. Abdullah di ikat pada tiang salib, dilempari batu dari depan dan dari belakang, dan di diguyuri minyak tanah. Badan Abdullah memar-memar dan berdarah-darah. Wajahnya susah dikenali lagi, Kemudian KR memerintahkan agar seluruh tentara Islam menonton Abdullah. Supaya mereka merasa ngeri dan menyarankan Abdullah mau menyerah. Abdullah diturunkan dari tiang salib, tergeletak di tanah dantak berdaya, dari matanya keluar air yang sangat deras. Tentara Romawi segera melaporkan kepada KR bahwa Abdullah menangis dan menyerah serta bersedia menjadi tentara nasrani. KR meminta agar Abdullah dihadapkan lagi. KR : Kasihan...., apa yang menyebabkan anda menangis barusan? Abdullah Saya mengira, ... selepas dari tiang salib akan langsung dimasukan ke pembakaran. Saya sudah sangat gembira akan menemui Allah dalam keadaan syahid. Tapi.... Tapi tidak kunjung dilempar ke pembakaran. Maka saya menangis. Kaisar Romawi mengumpulkan kembali seluruh tentaranya, kemudian berpidato: .....Sudah berbagai cara di lakukan untuk membujuk pada tentaraislam agar mau menjadi nasrani , tapi semua tidak ada yangmampu. Mereka (tentara islam) sangat teguh pendirian dan masih memilih mati daripada berpindah agama. Maka sebelum keadaan lebih buruk menimpa kita, ada baiknya kita bebaskan saja seluruh tawanan Islam itu...” Abdullah bin Hudzafah dan rombongan pulang ke Madinah dan melaporkan segala sesuatunya kepada Khalifah Umar bin Khatab. Khalifah merasa sangat bergembira memiliki tentara setangguh Abdullah. Maka kepada seluruh rombongan beliau berkata: ” Sangat pantas bagi setiap muslim bisa mencium kepada Abdullah bin Hudzafah... dan saya, adalah orang pertama yang melakukan itu...” Seluruh rombongan secara bergiliran menciumi kepala Abdullah bin Hudzafah Assahamy.

BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA?

SEBUAH RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN Oleh : Saeful Malik, S.Ag, MBA*) …. Ayeuna urang sakabeh dijajah diri sorangan … dijieun jaradi budeg … dijieun jadi anarkis … gampang ngambek jeung ngaruksak … resep pasea jeung dulur … teu dihandap teu di luhur … Kalimat-kalimat di atas merupakan penggalan bait-bait dari lagu yang berjudul “Dijajah” karya Doel Sumbang, yang merupakan ekspresi dari curahan hatinya mengenai makna kemerderkaan. Memang jika kita mencoba mentafakuri terhadap kemerdekaan bangsa kita yang sudah berusia 65 tahun, akan terbesit sebuah pertanyaan tentang hakikat kemerdekaan, apakah kita sudah benar-benar merdeka ? Dalam bait-bait awal lagu diatas Doel Sumbang bercerita secara fisik bangsa Indonesia sudah sangat merdeka. Indonesia sudah terbebas dari kungkungan penjajahan bangsa-bangsa lain. Terbebas dari bangsa Belanda yang menjajah 350 tahun, terbebas dari Jepang yang menjajah 3,5 tahun atau dari penjajahan bangsa sendiri. Akan tetapi benarkah kemerdekaan telah kita rasakan? Bukankah yang dimaksud dengan merdeka adalah keadaan (hal) berdiri sendiri, bebas dari rasa takut, lepas, tidak terjajah lagi ? (Kamus Bahasa Indonesia, 2008 : hal. 1015). Mengapa negara kita masih menjadi papan atas dalam urutan negara terkorup? Mengapa masih banyak tawuran antar daerah? Mengapa kita selalu tidak tenang menyaksikan pertandingan sepak bola? Dan jutaan mengapa yang lain yang selalu menyeriak dalam hati kita ketika kita melihat keadaan saat ini. Benarkah kita telah merdeka? Dan ketika kita menyimak bait-bait selanjutnya dalam lagu Doel Sumbang tadi, maka kita akan menemukan jawabannya. Ternyata kita secara bathin masih terjajah. Doel Sumbang mengatakan …. Ayeuna urang sakabeh dijajah diri sorangan … dijieun jaradi budeg … dijieun jadi anarkis … gampang ngambek jeung ngaruksak … resep pasea jeung dulur … teu dihandap teu di luhur … (… sekarang kita semua dijajah oleh diri kita sendiri … dibuat menjadi tuli … dijadikan anarkis … mudah marah dan merusak … senang berantem dengan sesama … terjadi tidak hanya dikalangan bawah tetapi juga dikalangan atas …). Yang dimaksud dengan dijajah oleh diri kita sendiri bermakna bukan secara fisik merusak atau memperdaya diri, akan tetapi dijajah oleh hawa nafsu yang ada pada diri kita sendiri, dan penulis setuju bahwa saat ini kita sedang dijajah oleh hawa nafsu. Apa yang dimaksud hawa nafsu ? Hawa nafsu secara sederhana adalah keinginan-keinginan diri. Nafsu diterjemahkan sebagai egoisme: kecendurangan kita untuk mencapai keinginan-keinginan diri. Keinginan untuk mencapai kenikmatan sensual, kesenangan jasmaniah, keinginan untuk makan dan minum, bersenang-senang, keinginan untuk diperhatikan, diistimewakan dan dianggap sebagi orang yang paling penting, yang biasanya lazim kita sebut sebagai kepongahan atau arogansi. (Jalaludin Rahmat, 2000, hal. 4) Dan menurut Fadli Sabil (2009) egoisme merupakan suatu kejahatan dan dipandang sebagai pelanggaran moral karena ia selalu mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Tuhan. Tentunya kita akan memahami jika hawa nafsu seperti pengertian di atas, mengendalikan dan menjajah diri masyarakat kita maka yang terjadi adalah korupsi, kolusi nepotisme dan berebut kekuasaan bagi orang-orang yang memiliki jabatan. Atau kekejaman yang dilakukan oleh rakyat kelas bawah, berupa kerusuhan, kekacauan, pencurian, perampokan, penodongan, pemerkosaan, penculikan, penjarahan yang mengakibatkan tidak ada lagi rasa ketenangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam pandangan Islam hawa nafsu merupakan musuh yang mesti dikendalikan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan melalui Imam Shâdiq bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Waspadalah terhadap hawa nafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang.” Imam Shâdiq as juga berkata: “Janganlah kalian biarkan jiwa bersanding bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti (membawa) kehinaan bagi jiwamu.” Dan Allah SWT. memberikan apresiasi yang luar biasa bagi siapa saja yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, sebagaimana firman-Nya, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at 40- 41.). Lalu bagaimana kita mengendalikan hawa nafsu? Di dalam ajaran Islam, hawa nafsu tidak untuk dibunuh sebab ada sisi baiknya dari hawa nafsu ini, yaitu akan memberikan motivasi untuk selalu berusaha dalam menggapai kebaikan hidup. Akan tetapi hawa nafsu mesti dikendalikan, salah satunya dengan puasa. Mengapa dengan puasa ? menurut Dr. H. Suhairy Ilyas, MA (2009) Puasa bukan hanya sekedar menahan dan mengendalikan hawa nafsu dari makan dan minum. Hakikat puasa adalah pengendalian diri secara total dengan kendali iman. Selain mengendalikan mulut dari makan dan minum, puasa juga mengendalikan lidah dari perkataan yang tidak terpuji, seperti bohong, gunjing, caci maki dan lain lainnya. Puasa juga mengendalikan hati kita untuk tidak selalu condong kepada kehidupan duniawi. Puasa juga pengendalian mata (ghadhul bashar) dari memandang hal yang diharamkan Allah SWT. seperti melihat tontonan aurat, tontonan maksiat dan lain lain. Puasa juga mengendalikan telinga dari mendengarkan hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT. seperti mendegar musik hura-hura, mendengar gosip dan lain-lain. Puasa juga mengendalikan kaki dan tangan dari tingkah laku yang tidak diridhai Allah. Sabda Rasulullah SAW : “Siapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji, maka bagi Allah SWT. tidak ada artinya dia meninggalkan makan dan minumnya (percuma dia berpuasa)”. (HR.Bukhari dari Abu Hurairah). Oleh karenanya, kiranya cukup menjadi bahan renungan pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia kali ini yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Marilah kita jadikan Kemerdekaan Negara kita benar-benar bermakna merdeka, tidak hanya secara fisik yang terbebas dari penjajahan, akan tetapi juga secara bathin terbebas dari penjajahan hawa nafsu kita dengan cara menjalankan puasa dengan sebenar-benarnya. Tentunya, jika semua masyarakat Indonesia mampu memerdekakan “Jiwa Raganya” dari penjajahan hawa nafsunya, niscaya harapan kita mewujudkan Indonesia sebagai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur akan segera terwujud, Insya Allah. Wallahu a’lam.

MENGENAL LEBIH DEKAT SANG BUPATI

Judul Buku : SATU DEKADE KANG DEDI BERSAMA RAKYAT CIREBON Penulis : Tim, Ketua : Diding Karyadi Pengantar : Megawati Soekarnoputri Cetakan : Pertama, Maret 2010 Penerbit : PEMKAB Cirebon Tebal : xvi + 189 halaman termasuk lampiran-lampiran Bagi sebagian besar masyarakat Cirebon, nama Dedi Supardi bukanlah nama yang asing. Sebagai seorang Bupati, Kang Dedi sering hadir dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, baik itu yang berhubungan dengan sosial, kesehatan, pendidikan ataupun agama, menyebabkan ia sangat akrab dengan masyarakat. Namanya pun sering muncul di media massa dalam pemberitaan yang berhubungan dengan program pemerintahan Kabupaten Cirebon. Namun, dari sekian banyak masyarakat Cirebon yang tahu tentang Kang Dedi, berapa banyak orang yang mengetahui sejarah kehidupannya dari mulai Dedi kecil dengan kehidupannya yang “pedih” sampai sosok Pak Dedi Supardi seorang bupati Cirebon yang dikenal seperti sekarang ini ? Buku “Satu Dekade Kang Dedi Bersama Rakyat Cirebon”, merupakan salah satu buku yang memberikan gambaran lengkap mengenai siapa sosok Dedi Supardi sebenarnya. Mulai dari riwayat hidupnya, relationship-nya, kepemimpinannya di pemerintahan sampai pada kesaksian-kesaksian dari orang-orang yang pernah berhubungan didalam perjalanan hidup dan karirnya seperti sahabat kecilnya, mantan atasannya, jajaran kepegawaian di Pemerintahan Kabupaten Cirebon, para tokoh agama, tokoh seni budaya, tokoh pemuda dan lain sebagainya. Buku yang ditulis dengan bahasa lugas dan ringan ini memaparkan bahwa dalam mencapai posisi puncak di Kabupaten Cirebon sebagai seorang Bupati, perjalanan kehidupan dan karir Kang Dedi tidaklah semulus yang dibayangkan banyak orang. Lika-liku kehidupan Kang Dedi diawali dengan keprihatinan. Diceritakan dalam buku ini kehidupan Kang Dedi di mulai dari Dedi kecil yang di asuh hanya seorang ibu dan nyaris tidak pernah kenal sosok ayahnya sampai cerita bahwa ia pernah hidup di gubug berlantai tanah, pernah menumpang di rumah saudara, pernah berjualan kue demi bisa mentuntaskan pendidikannya. (hlm. 11) Dengan membaca buku ini, pembaca akan disuguhi bahwa pengalaman hidup Kang Dedi yang pahit tersebut, ternyata tidak menjadikannya putus asa. Malah menjadikannya sosok yang tangguh, ulet, jujur dan disiplin. Sehingga ia pun mampu mentutaskan pendidikannya sampai lulus Perguruan Tinggi yang mengantarkannya diterima sebagai PNS di Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Dan dengan kegigihan serta sifatnya yang loyal serta amanah, karirnya pun melesat sampai pernah menjabat posisi puncak sebagai Kepala Kantor Departemen Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon. (hlm. 15) Pembaca juga akan mengetahui bahwa dibalik “kumisnya” yang tebal ternyata Kang Dedi memiliki sifat yang luwes, familiar, mudah bergaul dan bertanggung jawab, yang menjadikannya memiliki pergaulan sangat luas dan memiliki banyak teman. Tidak terbatas teman seprofesi atau se-kantor saja akan tetapi Kang Dedi juga akrab dengan berbagai kalangan seperti ulama, petani dan pengusaha, sampai-sampai karena hubungannya yang baik tersebut, ia juga pernah menjadi pengusaha sukses di bidang meubel berbahan baku rotan. (hlm. 17) Buku yang diberi pengantar oleh Ketua Umum PDIP ini juga menceritakan bagaimana peruntungan kang Dedi Supardi ketika memasuki kancah politik sehingga ia terpilih menjadi Wakil Bupati dan kemudian terpilih menjadi Bupati dua kali berturut-turut yang merupakan hasil pemilihan rakyat secara langsung. Dan kepercayaan rakyat tersebut tidak diasia-siakannya, malah dibalas oleh Kang Dedi dengan keberhasilan-keberhasilan pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat Cirebon sehingga berbagai penghargaan dan tanda jasa pun telah diraihnya. (hlm. 185) Salah satu keberhasilan yang paling menonjol yang diurai pada buku ini adalah dibidang Pendidikan. Kang Dedi mampu meningkatkan IP (Indeks Pendidikan) yang cukup signifikan dari 67,75 di tahun 2004 menjadi 75,00 di tahun 2007. Dengan menerapkan program penggratisan Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) untuk SLTA, yang merupakan rangkaian dari program sekolah gratis untuk tingkat SD dan SLTP, walaupun harus menguras APBD lebih dari 40% angka yang cukup tinggi jika dibanding dengan alokasi dana Pendidikan tingkat pusat yang hanya 20% dari APBN. (hlm. 70) Prestasi dalam bidang Kesehatan dibuktikan dengan peningkatan Angka Harapan Hidup (AHH) dari 63,5 tahun, pada tahun 2003, menjadi 64,92 tahun, pada tahun 2007. Juga pada penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), pada tahun 2003 AKB di Kabupaten Cirebon adalah 55 bayi per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2007 menurun menjadi 53,08 bayi per 1000 kelahiran hidup. (hlm. 72) Tidak hanya itu, buku ini juga menceritakan keberhasilan-keberhasilan Kang Dedi yang telah dirasakan masyarakat Cirebon pada kurun satu dekade kepemimpinannya, baik itu pada bidang ekonomi, kesejahteraan sosial, pembangunan infrastruktur, kecukupan pangan, peningkatan kualitas perempuan, peningkatan kualitas hidup nelayan dan lain sebagainya. (hlm. 75-85) Keberhasilan Kang Dedi tentunya tidak datang dengan sendirinya, dukungan dari keluarga dan kerabatnya pun menjadi faktor pendukung yang tak kalah pentingnya. Hal ini pun didapatkannya, karena kang Dedi mampu dalam memanagement waktu dan prioritas kepentingan. Sehingga kepentingan keluarga dan pekerjaan dapat sama-sama terpenuhi. (hlm 23-58). Dan dimata keluarganya Kang Dedi merupakan sosok yang romantis dan penuh dengan kejutan, sehingga keluarga dan kerabatnya banyak mencurahkan kasih sayang dan dukungannya. (hlm 25) Buku yang ditulis oleh tim yang terdiri dari mayoritas wartawan ini, tidak menaifkan kekurangan-kekurangan Kang Dedi selaku manusia. Dipaparkan pula secara berimbang tentang ketidakberhasilan-ketidakberhasilan Kang Dedi. Seperti ia pernah “salah perhitungan” dalam menjalankan bisnisnya, sehingga perekonomian keluarganya pernah tersungkur. (hlm. 17). Ia juga kurang memperhatikan kesehatan dirinya, dan beberapa sifatnya yang sebenarnya baik akan tetapi justru sering menjadi titik kelemahannya, seperti terlalu baik kepada orang lain yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu, dan lain sebagainya. (hlm xvi). Di samping beberapa program Kerja di Pemerintahannya yang masih menjadi “PR” untuk diselesaikan dan disempurnakan. Semua paparan yang ada dalam buku ini menjadikan buku ini sangat layak dan sangat penting dibaca oleh siapapun. Tidak hanya bagi masyarakat Cirebon, akan tetapi juga bagi siapapun yang mempunyai keinginan untuk maju dan sukses.